Hosting Gratis
Tampilkan postingan dengan label chemical articles. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label chemical articles. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 Januari 2013

Sabun Mandi Kreasi Sendiri


Membuat sabun mandi sendiri ternyata lebih asik dan jauh lebih bermanfaat daripada membeli sabun mandi di pasaran, sebab dengan membuat sabun sendiri, kita tahu apa saja kandungan yang ada dalam sabun tersebut.
Sabun mandi yang biasa kita pakai atau banyak di pasaran memakai bahan dasar SLS (Sodium Lauryl Sulfate). SLS ini adalah bahan yang dipakai untuk membuat detergent. SLS disebut juga surfactant (agen pembersih). Faktanya SLS juga dipakai untuk bahan pembersih lantai. Kenapa pakai SLS? karena produsen bisa membuat sabun dengan harga yang murah.
Bahan-Bahan yang dibutuhkan :
  1. Minyak atau Lemak – Hampir semua minyak / lemak alami bisa dibuat menjadi sabun. Contoh: Minyak Kelapa, Minyak Sawit, Minyak Zaitun, Minyak Jagung, Minyak Kedelai…
  2. NaOH / KOH – Untuk mengubah minyak / lemak menjadi sabun mandi.
  3. Air – Sebagai katalis/pelarut. Pilih air sulingan atau air minum kemasan. Air dari pam tidak bagus, banyak mengandung mineral.
  4. Essential dan Fragrance Oils – Sebagai pengharum.
  5. Pewarna – Untuk mewarnai sabun. Bisa juga memakai pewarna makanan.
  6. Zat Aditif – Rempah, herbal, talk, tepung kanji/maizena dapat ditambahkan pada saat “trace”.
Alat-alat yang dibutuhkan :
  1. Sebuah masker sederhana - Dipakai selama pembuatan larutan NaOH / KOH saja.
  2. Kacamata - Dipakai selama pembuatan larutan NaOH / KOH saja.
  3. Sepasang sarung tangan karet - Dipakai selama pembuatan sabun.
  4. Botol plastik - Untuk wadah air.
  5. Timbangan dapur (dengan skala terkecil 1 atau 5 gram).
  6. Kantong plastik kecil - Untuk menimbang NaOH/KOH.
  7. Sendok stainless steel atau plastik-polipropilen - Untuk menuangkan NaOH / KOH dan mengaduknya.
  8. Wadah dari gelas atau plastik-polipropilene - Untuk tempat larutan NaOH/KOH dengan air.
  9. Wadah dari plastik - Untuk menimbang serta tempat air dan minyak.
  10. Kain - Untuk menutup cetakan setelah diisi sabun.
  11. Plastik tipis - Untuk melapisi cetakan.
  12. Cetakan.
  13. Blender dengan tutupnya.
  14. Kain - Untuk menutup blender.
Cara pembuatan :

Siapkan cetakan. Cetakan bisa apa saja. Bisa loyang yang diminyaki, baki plastik yang dialasi plastik tipis atau pipa PVC yang diminyaki. Siapkan cetakan yang cukup untuk menampung semua hasil pembuatan sabun.
Cetakan: Untuk cetakan anda bisa menggunakan kayu atau karton yang dilapisi plastik tipis, bahkan pipa PVC bisa dipakai. Jika menggunakan pipa PVC tutup bagian bawah dengan plastik yang diikat dengan karet gelang, semprotkan minyak ke dalamnya, tuangkan hasil sabun. Setelah mengeras buka tutupnya, dorong lalu potong akan menghasilkan sabun yang bulat.

Timbang air dan NaOH / KOH, sesuai dengan Resep. Larutkan NaOH / KOH ke dalam air sejuk / dingin (Jangan menggunakan wadah aluminium. Gunakan stainless steel, gelas pyrex atau plastik-poliproplen). Jangan menuangkan air ke NaOH / KOH. Tuangkan NaOH / KOH ke dalam air sedikit demi sedikit. Aduk higga larut. Pertama-tama larutan akan panas dan berwarna keputihan. Setelah larut semuanya, simpan di tempat aman untuk didinginkan sampai suhu ruangan. Akan didapatkan larutan yang jernih.

Timbang minyak (Minyak Kelapa, Minyak Sawit, Minyak Zaitun, Minyak Jagung, Minyak Kedelai...) sesuai dengan Resep.

Tuangkan minyak yang sudah ditimbang ke dalam blender. Hati hati tuangkan larutan NaOH / KOH ke dalam minyak.

Pasang cover blender, taruh kain di atas cover tadi untuk menghindari cipratan dan proses pada putaran terendah. Hindari jangan sampai menciprat ke muka atau badan anda. Hentikan blender dan periksa sabun untuk melihat tahap “trace”. “Trace” adalah kondisi dimana sabun sudah terbentuk dan merupakan akhir dari proses pengadukan. Tandanya adalah ketika campuran sabun mulai mengental. Apabila disentuh dengan sendok, maka beberapa detik bekas sendok tadi masih membekas, itulah mengapa dinamakan “trace”.

Pada saat “trace” tadi anda bisa menambahkan pengharum, pewarna atau aditif. Aduk beberapa detik kemudian hentikan putaran blender.
Tuang hasil sabun ini ke dalam cetakan. Tutup dengan kain untuk insulasi. Simpan sabun dalam cetakan tadi selama satu hingga dua hari. Kemudian keluarkan dari cetakan, potong sesuai selera. Simpan sekurang-kurangnya 3 minggu sebelum dipakai.




Read more ...

Rabu, 07 Maret 2012

Mekanisme Kerja Eksikator


Eksikator berguna untuk mengeringkan zat atau sample yang akan dianalisa secara kuantitatif,pada prinsipnya,eksikator ini menyerap air ataupun uap air yang keluar dari sample tersebut setelah pengovenan.



Dalam eksikator terdapat zat yang dapat menyerap uap air diantaranya adalah Asam Sulfat,Silica Gel,Kalium Permanganat,Alumunium dioksida,Calcium Chloride,Kalium Hidroksida,Kalium Sulfat,BaO,CaO,dan masih banyak lagi.

Tetapi yang diutamakan adalah Silica Gel SiO2
Dalam keadaan jenuh karna sudah banyak mernyerap uap air (H2O) warna Silica Gel tersebut berubah menjadi kebiruan,oleh karena itu,perlu dilakukan pengovenan guna menguapkan semua air di Silica Gel dalam oven bersuhu 110 celcius hingga warnanya menjadi puith kembali
Read more ...

Penetapan Kadar Fe dalam FeSO4.7H2O (Metode Gravimetri)


Dasar
Garam besi (II) yang tidak mantap dioksidasikan dengan HNO3, air brom atau hydrogen peroksida menjadi Fe(III) yang mantap. Kemudian Fe(III) diendapkan dengan NH4OH menjadi Fe(OH)3, endapan selai berwarna coklat yang setelah dipijarkan menjadi Fe2O3 yang berwarna hitam coklat.

Tujuan
Untuk mengetahui kadar Fe(II) yang diubah menjadi Fe(III) yang terkandung dalam garam tunjung (FeSO4.7H2O)

Reaksi :
FeSO4.7H2O FeSO4 + 7H2O
2HNO3 H2O + 2NO + 3O
6FeSO4 + 6HNO3 + 3O 2Fe2(SO4)3 + 2Fe(NO3)3 + 3H2O
2Fe(NO3) + 2Fe(SO4)3 + 18NH4OH 6Fe(OH)3 + 6(NH4)2SO4 + 6NH4NO3
6Fe(OH)3 3Fe2O3 + 9H2O

Pembahasan
Besi (II) tidak diendapkan sebagai Fe(OH)2 karena besi(II) mudah dioksidasi oleh udara, sehingga pada waktu pemijaran kemungkinan menjadi besi (III) yang tidak sempurna. Hal ini menyebabkan sulitnya menentukan factor kimianya. Oleh karena itu besi harus diendapkan sebagai Fe(OH)3. Sebagai pengoksidasinya dipakai HNO3, H2O2, atau air brom.

pH pengendapan tidak boleh terlalu tinggi untuk menghindari pengendapan hidroksida-hidroksida lain, terutama sampel yang bersal dari alam yang biasanya mengandung Mg sehingga dapat mengendap sebagai Mg(OH)2. Oleh karena itu ditambah NH4Cl sebagai pengendap bersama NH4OH.

Pengendapan ini dilakukan pada suhu 70-80C bertujuan untuk mendapatkan endapan selai yang baik. Selain itu endapan dicuci dengan air suling panas untuk mempercepat kotoran larut dan dan untuk menghilangkan kelebihan ammonia.

Sebenernya HNO3 kurang baik untuk dipakai sebagai pengoksidasi karena mudah terjadi kopresipitasi. Kopresipitasi adalah pengendapan bersama-sama yang memungkinkan pengendapan ion-ion.
Ada dua jenis kopresipitasi yang penting :
Pertama, yang berkaitan dengan adsorpsi pada permukaan partikel yang terkena larutan umumnya akan paling besar endapan yang mirip gelatin dan paling sedikit pada endapan dengan sifat makro kristalin yang menonjol (adsorpsi: penyerapan suatu zat pada permukaan suatu zat lain)
Kedua, yang sehubungan dengan oklusi zat asing sewaktu proses pertumbuhan Kristal dari partikell-partikel primer. Terjadi sewaktu endapan dibangun dari partikel primernya. Partikel primer ini akan mengalami adsorpsi permukaan sampai tingkat tertentu.

Cara meminimalkan kopresipitasi :
1.    Metode penambahan dari kedua reagent.
2.    Pencucian
3.    Pencernaan
4.    Pengendapan kembali
5.    Pemisahan

Besi yang murni adalah logam berwarna putih perak yang kukuh dan liat. Ia melebur 1535C. jarang terdapat besi komersial yang murni. Biasanya besi mengandung sejumlah kecil karbida, silisida, fosfida dan sulfida dari besi dan sedikit grafit.

Besi membentuk 2 deret garam yang penting. Garam-garam besi(II) diturunkan dari besi (II) oksida FeO. Dalam larutan, garam-garam ini mengandung kation Fe2+ dan berwarna sedikit hijau. Ion besi (II) dapat mudah dioksidasikan menjadi besi (III) Fe2O3. Mereka lebih stabil dari pada garam besi (II). Dalam larutannya, terdapat kation-kation Fe3+ yang berwarna kuning muda.

Fe2O3 yaitu suatu zat padat berwarna coklat kemerah-merahan yang dapat diperoleh dengan memanaskan Fe(OH)3 atau FeSO4 pada suhu tinggi. Dibanyak daerah tertentu ferioksida ini sangat besar perannya dalam mewarnai tanah menjadi coklat merah.
Read more ...

Rabu, 01 Februari 2012

ANALISA KADAR AIR DENGAN METODE THERMOGRAVIMETRIC

Pendahuluan

Dalam ulasan dari praktikum kimia analisis ini,kami akan menentuan kadar air berdasarkan pemanasan atau penguapan pada suhu 100-105 derajat celcius selama 3 jam atau sampai mencapai berat konstan dalam oven.Perbedaan dari berat sebelum dan sesudah pengeringan/penguapan dalam jumlah air yang diuapkan lebih relatif mudah dan murah.

Penguapan dapat dipercepat dengan pemanasan pada suhu rendah dan tekanan vacum,dengan carai ini,reaksi yang menyebabkan pembentukan air dan substansi lainnya dapat dicegah.

Substansi yang sudah dikeringkan akan lebih bersifat higroskopis dari semula/sebelum perlakuan,selama pendinginan sebelum ditimbang,substansi harus ditempatkan dalam tempat kedap udara (eksikator) karna didalam eksikator sendiri sudah ada zat penyerap uap air yaitu silica gel,potassium chloride and more!

Peralatan
  1. timbangan analitik                                                              
  2. spatula
  3. oven
  4. desikator/eksikator
  5. tang krus
  6. botol timbang
Bahan
  1. sampel yang sudah disiapkan

Prosedur Kerja
  1.  Panaskan botol timbang dalam oven pada suhu 10 derajat celcius selama beberapa jam
  2. Lalu mendinginkan botol tersebut dalam tempat khusus(eksikator) usahakan dalam pemindahan tidak terlalu lama di tempat bebas  #dekatkan neraca/timbangan dengan oven
  3. Ditimbang dan catat hasilnya
  4. Timbang sampel sebanyak 1-2 gram didalam botol timbang yang telah konstan (Ws = total gram botol+sampel awal/sebelum penguapan)
  5. Lalu masukan dalam oven,atur suhu pada 105 derjat celcius (air menguap pada suhu 100 derajat) selama 3 jam
  6. Masukkan dalam eksikator selama 30 menit/lebih
  7.  Menimbang berat botol tersebut setelah diuapkan (Wn) 

Perhitungan

(Berat botol konstan + sampel sebelum dioven) - Berat botol+sampel yang sudah diuapkan / gram sampel x 100%
                                                                
atau

Wo - Wn x 100%
  sampel


SEMOGA BERMANFAAT


 
Read more ...

LIMBAH UDANG SEBAGAI PENYERAP LIMBAH LOGAM BERAT

Pencemaran pada perairan di sekitar kita sudah sangat memprihatinkan,terutama perairan pada Kawasan Industri di kota maupun di desa.Pencemaran lingkungan perairan yang disebabkan oleh logam-logam berat seperti kadmium, timbal dan tembaga yang berasal dari limbah industri sudah lama diketahui. Untuk menghilangkan bahan pencemar perairan tersebut hingga kini masih terus dikembangkan. Penggunaan biomaterial merupakan salah satu teknologi yang dapat dipertimbangkan, mengingat meterialnya mudah didapatkan dan membutuhkan biaya yang realtif murah sebagai bahan penyerap senyawa beracun dalam air limbah. 

       Limbah udang yang berupa kulit, kepala, dan ekor dengan mudah didapatkan mengandung senyawa kimia berupa khitin dan khitosan. Senyawa ini dapat diolah dan dimanfaatkan sebagai bahan penyerap logam-logam berat yang dihasilkan oleh limbah industri. Hal ini dimungkinkan karena senyawa khitin dan khitosan mempunyai sifat sebagai bahan pengemulsi koagulasi, reaktifitas kimia yang tinggi dan menyebabkan sifat polielektrolit kation sehingga dapat berperan sebagai penukar ion (ion exchanger) dan dapat berpungsi sebagai absorben terhadap logam berat dalam air limbah.

        Peningkatan kadar logam berat di dalam perairan akan diikuti oleh peningkatan kadar zat tersebut dalam organisme air seperti kerang, rumput laut dan biota laut lainnya. Pemanfatan organisme ini sebagai bahan makanan akan membahayakan kesehatan manusia.
    Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan maka berkembang pulalah industri-industri. Akibatnya lingkungan menjadi salah satu sasaran pencemaran, terutama sekali lingkungan perairan yang sudah pasti terganggu oleh adanya limbah industri, baik industri pertanian maupun industri pertambangan.

        Penggunaan bahan biomaterial sebagai penyerap ion logam berat merupakan alternatif yang memberikan harapan. Sejumlah biomaterial seperti lumut ,daun teh,sekam padi ,dan sabut kelapa sawit, begitu juga dari bahan non biomaterial seperti perlit, tanah gambut, lumpur aktif dan lain-lain telah digunakan sebagai bahan penyerap logam-logam berat dalam air limbah. 

        Kulit udang yang mengandung senyawa kimia khitin dan khitosan merupakan limbah yang mudah didapat dan tersedia dalam jumlah yang banyak, yang selama ini belum termanfaatkan secara optimal.Dengan adanya sifat-sifat khitin dan khitosan yang dihubungkan dengan gugus amino dan hidroksil yang terikat, maka menyebabkan khitin dan khitosan mempunyai reaktifitas kimia yang tinggi dan menyebabkan sifat polielektrolit kation sehingga dapat berperan sebagai penukar ion (ion exchanger) dan dapat berperan sebagai absorben terhadap logam berat dalam air limbah.Karena berperan sebagai penukar ion dan sebagai absorben maka khitin dan khitosan dari limbah udang berpotensi dalam memcahkan masalah pencemaran lingkungan perairan dengan penyerapan yang lebih murah dan bahannya mudah didapatkan.
Limbah Udang sebagai Material Penyerap Logam Berat
      Sebagian besar limbah udang berasal dari kulit, kepala, dan ekornya. Fungsi kulit udang tersebut pada hewan udang (hewan golongan invertebrata) yaitu sebagai pelindung (Neely dan Wiliam, 1969). Kulit udang mengandung protein (25 % - 40%), kalsium karbonat (45% - 50%), dan khitin (15% - 20%), tetapi besarnya kandungan komponen tersebut tergantung pada jenis udangnya. sedangkan kulit kepiting mengandung protein (15,60% - 23,90%), kalsium karbonat (53,70 – 78,40%), dan khitin (18,70% - 32,20%), hal ini juga tergantung pada jenis kepiting dan tempat hidupnya
Read more ...

Senin, 30 Januari 2012

Tentang Antioksidan


"Antioksidan" digunakan sebagai aditif makanan untuk mengawetkan makanan untuk jangka waktu yang lama. Antioksidan bertindak sebagai pemulung oksigen sebagai kehadiran oksigen dalam makanan membantu bakteri untuk tumbuh yang pada akhirnya membahayakan makanan. Dengan tidak adanya oksidasi aditif antioksidan makanan dari lemak tak jenuh membutuhkan render tempat untuk bau busuk dan warna makanan.
 
Berbagai jenis makanan antioksidan bertindak dengan cara yang berbeda tetapi hasil akhirnya adalah untuk menunda atau meminimalkan proses oksidasi dalam makanan. Beberapa antioksidan makanan aditif bergabung dengan oksigen untuk mencegah oksidasi dan lainnya mencegah oksigen dari bereaksi dengan makanan yang mengarah ke pembusukan nya. 

Apakah Oksidasi? 

Oksidasi dalam makanan adalah proses yang terjadi ketika makanan terkena oksigen. Dalam oksidasi makanan adalah proses yang merusak menyebabkan pembusukan makanan dan perubahan komposisi kimia serta nilai gizi makanan. Untuk mencegah hal ini atau menunda proses oksidasi, antioksidan makanan aditif yang ditambahkan dalam makanan. Mereka meningkatkan kehidupan rak makanan.Oksidasi LemakLemak dan minyak serta makanan yang mengandung mereka lebih rentan terhadap oksidasi. SO ini harus memiliki makanan antioksidan untuk mencegah oksidasi. Daftar makanan mana antioksidan yang ditambahkan adalah minyak sayur, lemak hewan, daging, ikan, unggas, produk panggang, kentang, margarin, salad dll 

Antioksidan Populer Pada Makanan 

Antioksidan Vitamin - Ascorbic Acid-E300Vitamin antioksidan termasuk asam askorbat (vitamin C). ini vitamin antioksidan digunakan dalam bir, memotong buah, kentang kering dan kemacetan. Vitamin antioksidan dalam makanan ini membantu dalam mencegah perubahan warna makanan dengan mencegah oksidasi. Hal ini juga dapat bertindak sebagai pengganti vitamin C pada kentang yang hilang selama pemrosesan. 
Asam sitrat - E330Hal ini digunakan dalam biskuit, selai, buah kalengan, minuman beralkohol, keju dan sup dikeringkan. Ini memiliki banyak kegunaan seperti itu mencegah perubahan warna makanan, meningkatkan efek anti-oksidan dari bahan lain dan mengatur pH dalam selai dan jeli. 
Tokoferol - E306Ini tambahan makanan antioksidan digunakan dalam pai daging dan minyak untuk mengurangi oksidasi asam lemak dan vitamin. 
Butylated hydroxyanisole (BHA) - E320Butylated hydroxyanisole (BHA) digunakan dalam margarin, minyak, keripik dan keju. Antioksidan ini membantu dalam mencegah reaksi yang mengarah ke pemecahan lemak.

Manfaat Antioksidan 

Ada banyak manfaat dari menggunakan aditif antioksidan makanan. Antioksidan mencegah penyumbatan arteri dengan deposito lemak yang mencegah heartattacks. Juga ini berhubungan dengan pencegahan beberapa jenis kanker, arthritis dan kondisi lebih dari ini jenis.

Daftar Antioksidan Tambahan Pada Makanan


Read more ...

Bahan Tambahan Makanan (Pengawet)

Semua produk makanan kecuali satu tumbuh di kebun dapur anda telah berpengawet makanan di dalamnya. Setiap produsen menambahkan pengawet makanan ke makanan selama pemrosesan. Tujuannya adalah untuk menghindari pembusukan pada umumnya selama waktu transportasi.
 
Makanan sangat penting untuk kelangsungan hidup, sehingga pengawetan makanan adalah salah satu teknologi tertua yang digunakan oleh manusia untuk menghindari pembusukan nya. Cara yang berbeda dan berarti telah ditemukan dan diperbaiki untuk tujuan tersebut. Mendidih, pembekuan & pendinginan, pasteurisasi, dehidrasi, acar adalah sedikit tradisional. Gula, garam mineral dan garam juga sering digunakan sebagai pengawet makanan. Radiasi nuklir juga digunakan sekarang sebagai pengawet makanan. Teknik kemasan dimodifikasi seperti kemasan vakum dan pengepakan hypobaric juga bekerja sebagai pengawet makanan.

Pelestarian makanan pada dasarnya dilakukan untuk tiga alasan

     Untuk melestarikan karakteristik alami makanan
     Untuk melestarikan penampilan makanan
     Untuk meningkatkan nilai rak untuk penyimpanan makanan.

Pengawet Makanan Alami
        
Dalam kategori pengawet makanan alami datang garam, gula, alkohol, cuka dll Ini adalah pengawet dalam makanan tradisional yang juga digunakan di rumah sementara membuat acar, selai dan jus dll Juga pembekuan, mendidih, merokok, penggaraman yang dianggap sebagai cara alami untuk melestarikan makanan. Kopi bubuk dan sup adalah dehidrasi dan beku-kering untuk pengawetan. Dalam bagian ini pengawet makanan asam jeruk seperti jeruk dan asam askorbat bekerja pada enzim dan mengganggu metabolisme mereka mengarah ke pelestarian.

Gula dan garam adalah bahan pengawet makanan alami yang paling awal yang sangat efisien tetes pertumbuhan bakteri dalam makanan. Untuk melestarikan daging dan ikan, garam masih digunakan sebagai pengawet makanan alami.

Pengawet makanan kimia
        
Pengawet makanan kimia yang juga digunakan untuk beberapa waktu sekarang. Mereka tampaknya menjadi yang terbaik dan paling efektif untuk kehidupan rak lagi dan umumnya bodoh bukti untuk tujuan pelestarian. Contoh pengawet makanan kimia:

    
Benzoat (seperti natrium benzoat, asam benzoat)
    
Nitrit (seperti natrium nitrit)
    
Sulfit (seperti sulfur dioksida)
    
Sorbates (seperti natrium sorbat, kalium sorbat


Antioksidan adalah pengawet makanan juga kimia yang bertindak sebagai pemulung radikal bebas. Dalam kategori pengawet dalam makanan datang vitamin C, BHA (hydroxyanisole butylated), inhibitor pertumbuhan bakteri seperti natrium nitrit, sulfur dioksida dan asam benzoat.
Lalu ada etanol yang merupakan salah satu pengawet kimia dalam makanan, anggur dan makanan yang disimpan di brendi. Tidak seperti pengawet makanan alami beberapa makanan pengawet kimia berbahaya. Sulfur dioksida dan nitrit adalah contoh. Belerang dioksida menyebabkan iritasi dalam tabung bronkial dan nitrit yang karsinogenik.
 

Pengawet Makanan Buatan       

Pengawet buatan adalah zat kimia yang berhenti dari menunda pertumbuhan bakteri, pembusukan dan perubahan warna nya. Ini pengawet buatan dapat ditambahkan ke makanan atau disemprotkan pada makanan. 
Jenis Pengawet Makanan Buatan

    
Agen antimikroba
    
Antioksidan
    
Chelating agen

Dalam antimikroba datang benzoat, Natrium benzoat, Sorbates dan Nitrit.Antioksidan termasuk Sulfit, vitamin E, vitamin C dan Butylated hydroxytoluene (BHT)Chelating agen memiliki Dinatrium asam ethylenediaminetetraacetic (EDTA), dan asam sitrat polifosfat 

Pengawet Makanan Berbahaya        

Meskipun pengawet aditif makanan yang digunakan untuk menyimpan makanan segar dan untuk menghentikan pertumbuhan bakteri. Tapi masih ada pengawet tertentu dalam makanan yang berbahaya bila dikonsumsi dalam lebih dari batas yang ditentukan. 

Beberapa pengawet makanan berbahaya 

Benzoat Kelompok bahan kimia pengawet makanan telah dilarang di Rusia karena perannya dalam memicu alergi, asma dan ruam kulit. Hal ini juga dianggap menyebabkan kerusakan otak. Ini pengawet makanan digunakan dalam jus buah, teh, kopi dll 
Butylates ini pengawet makanan kimia diperkirakan akan menyebabkan tekanan darah tinggi dan tingkat kolesterol. Hal ini dapat mempengaruhi fungsi ginjal dan hidup. Hal ini ditemukan dalam minyak sayur mentega, dan margarin. 
BHA (hydroxyanisole butylated)BHA diperkirakan akan menyebabkan penyakit hidup dan kanker. Ini pengawet makanan digunakan untuk mengawetkan daging babi segar dan sosis babi, keripik kentang, teh instan, campuran kue dan banyak lagi. 
Karamel Carmel adalah bahan pewarna yang menyebabkan kekurangan vitamin B6, efek genetik dan kanker. Hal ini ditemukan dalam permen, roti, makanan berwarna coklat dan pizza beku.
Selain ini ada banyak lainnya pengawet makanan berbahaya. Ini adalah Bromates, Kafein, Karagenan, klor, Tar Batubara azo Dies, Gallates, glutamat, Mono-dan Di-gliserida, Nitrat / Nitrit, Sakarin, Erythrobate Sodium, ï ¿½ Sulphites dan Tannin 

Pengawet Makanan Aditif         

Semua bahan kimia ini bertindak sebagai antimikroba atau antioksidan baik atau keduanya. Mereka juga menghambat aktivitas atau membunuh bakteri, jamur, serangga dan mikroorganisme lainnya. Antimikroba, mencegah pertumbuhan jamur, ragi dan bakteri dan antioksidan menjaga makanan dari menjadi tengik atau mengembangkan bintik-bintik hitam. Mereka menekan reaksi ketika makanan datang dalam kontak dengan oksigen, panas, dan beberapa logam. Mereka juga mencegah hilangnya beberapa asam amino esensial beberapa vitamin.  
Read more ...

MENENTUKAN JUMLAH & UKURAN BAKTERI

Menentukan Ukuran Mikroorganisme

Mikroba berukuran sangat kecil dan untuk mengetahuinya digunakan mikrometer. Mikrometer merupakan kaca berskala dan dikenal 2 jenis micrometer yaitu mikrometer okuler dan mikrometer objektif. Mikrometer okuler dipasang pada lensa okuler mikroskop, sedangkan micrometer objektif berbentuk slide yang ditempatkan pada meja preparat mikroskop. Jarak antar garis skala pada mikrometer okuler tergantung pada perbesaran lensa objektif yang digunakan yang menentukan lapang pandang mikroskop. Jarak ini dapat ditentukan dengan mengkalibrasi antara mikrometer okuler dan objektif. Mikrometer objektif memiliki skala yang telah diketahui, menjadi tolak ukur untuk menentukan ukuran skala micrometer okuler. 1 skala micrometer objektif = 0,01 mm / 10 µm.

Kalibrasi dilakukan dengan menghimpitkan skala mikrometer objektif dan okuler pada perbesaran yang diinginkan. Skala ke nol (garis pertama) kedua mikrometer disimpulkan menjadi 1 garis kemudian dilihat pada skala ke berapa kedua jenis mikrometer tersebut bertemu/berhimpit kembali. Dari hasil tersebut dapat diketahui satu satuan panjang pada skala mikrometer okuler itu berdasarkan beberapa jumlah skala kecil mikrometer objektif yang berada di antara garis yang berhimpit tadi

             Penentuan ukuran mikroba

  • Lepaskan mikrometer objektif dari meja benda.
  • Ganti dengan preparat ulas yang telah disiapkan
  • Cari fokus dari preparat tersebut dengan perbesaran yang sama.
  • Hitung berapa panjang sel dengan menghitung skala mikrometer okuler.
  • Jika diperlukan hitung lebar sel dengan cara yang sama. Tabung lensa okuler dapat diputar dan dicari posisi yang pas.

Hitung panjang dan lebar sel sebenarnya :

x skala okuler X hasil kalibrasi

y skala okuler X hasil kalibrasi

misal : 5 X 1,54 = 7,7 µm

2 X 1,54 = 3,08 µm



    
A. penghitungan jumlah bakteri hidup (tidak langsung)


a.1. Plate Count (hitungan cawan)

Plate count / viable count didasarkan pada asumsi bahwa setiap sel mikroorganisme hidup dalam suspensi akan tumbuh menjadi satu koloni setelah ditumbuhkan dalam media pertumbuhan dan lingkungan yang sesuai. Setelah diinkubasi, jumlah koloni yang tumbuh dihitung dan merupakan perkiraan atau dugaan dari jumlah mikroorganisme dalam suspensi tersebut.

Koloni yang tumbuh tidak selalu berasal dari satu sel mikroorganisme karena beberapa mikroorganisme tertentu cenderung membentuk kelompok atau berantai. Berdasarkan hal tersebut digunakan istilah Coloni Forming Units (CFU’s) per ml. koloni yang tumbuh berasal dari suspensi yang diperoleh menggunakan pengenceran bertingkat dari sebuah sampel yang ingin diketahui jumlah bakterinya.

Syarat koloni yang ditentukan untuk dihitung adalah sebagai berikut “

- Satu koloni dihitung 1 koloni.

- Dua koloni yang bertumpuk dihitung 1 koloni.

- Beberapa koloni yang berhubungan dihitung 1 koloni.

- Dua koloni yang berhimpitan dan masih dapat dibedakan dihitung 2 koloni.

- Koloni yang terlalu besar (lebih besar dari setengah luas cawan) tidah dihitung.

- Koloni yang besarnya kurang dari setengah luas cawan dihitung 1 koloni.

Cara menghitung sel relatif / CFU’s per ml

CFU’s / ml = jumlah koloni X faktor pengenceran

Misal : penanaman dilakukan dari tabung pengenceran 10 -6 dengan metode Spread Plate dan Pour Plate.

Spread plate : koloni = 50 = 50 x 106 CFU’s / 0,1 ml

Fp = 1/10 -6 = 50 000 000 CFU’s / 0,1 ml

SP = 0,1 ml = 500 000 000 CFU’s / ml

= 5x108 CFU’s / ml

Pour plate : koloni = 50 = 50 x 106 CFU’s / 1 ml

Fp = 1/10 -6 = 50 000 000 CFU’s / 0,1 ml

SP = 1 ml = 5x107 CFU’s / ml
Koloni yang dipilih untuk dihitung menggunakan cara SPC memiliki syarat khusus berdasarkan statistik untuk memperkecil kesalahan dalam perhitungan.

  
Syarat penghitungan SPC


            Penghitungan koloni pada cawan sebaiknya dibuat transek atau dibagi-bagi jika koloni yang tumbuh terlalu banyak. Transek dibuat dengan spidol/marker di bagian bawah cawan petri. Pola transek dapat dibuat bervariasi, tergantung kebutuhan. Penghitungan akan lebih mudah bila memakai Colony Counter.



a. Prosedur perhitungan jumlah bakteri dengan metode Plate Count.

  • Lakukan preparasi suspensi kepada sampel terlebih dahulu (swab, maserasi dan rinse) (jika perlu).
  • Masukkan sampel ke tabung berisi 9 ml akuades untuk pengenceran pertama, selanjutnya diencerkan sampai tingkat pengenceran (misalnya sampai 10-8) tertentu.
  • Dari 3 pengenceran terakhir diplating (ditanam) ke media NA (Nutrien Agar) atau PCA (Plate Count Agar) sebanyak dua kali tiap pengenceran (duplo). Plating dapat secara Spread Plate atau Pour Plate. Jika secara Spread Plate, dapat digunakan batang L atau glass beads.
  • Inkubasi pada suhu 30º C selama 1-2 x 24 jam.
  • Setelah tumbuh, koloni dihitung dengan persyaratan yang telah diuraikan di depan.

b. Most Probable Number (MPN)

Pendekatan lain untuk enumerasi bakteri hidup adalah dengan metode MPN. MPN didasarkan pada metode statistik (teori kemungkinan). Metode MPN ini umumnya digunakan untuk menghitung jumlah bakteri pada air khususnya untuk mendeteksi adanya bakteri koliform yang merupakan kontaminan utama sumber air minum. Ciri-ciri utamanya yaitu bakteri gram negatif, batang pendek, tidak membentuk spora, memfermentasi laktosa menjadi asam dan gas yang dideteksi dalam waktu 24 jam inkubasi pada 37º C. Sampel ditumbuhkan pada seri tabung sebanyak 3 atau 5 buah tabung untuk setiap kelompok. Apabila dipakai 3 tabung maka disebut seri 3, dan jika dipakai 5 tabung maka disebut 5 seri. Media pada tabung adalah Lactose Broth yang diberi indikator perubahan pH dan ditambah tabung durham. Pemberian sampel pada tiap seri tabung berbeda-beda. Untuk sampel sebanyak 10 ml ditumbuhkan pada media LBDS (Lactose Broth Double Stregth) yang memiliki komposisi Beef extract (3 gr), peptone (5 gr), lactose (10 gr) dan Bromthymol Blue (0,2 %) per liternya. Untuk sampel 1 ml dan 0,1 ml dimasukkan pada media LBSS (Lactose Broth Single Stregth) yang berkomposisi sama tapi hanya kadar laktosa setengah dari LBDS yaitu 5 gr.

Berdasar sifat coliform, maka bakteri ini dapat memfermentasikan laktosa menjadi asam dan gas yang dideteksi oleh berubahnya warna dan gas dalam tabung durham. Nilai MPN ditentukan dengan kombinasi jumlah tabung positif (asam dan gas) tiap serinya setelah diinkubasi.

Cara kerja :

  1. Sediakan 3 tabung berisi LBDS (9 ml tiap tabung) dan 6 tabung berisi LBSS (9 ml tiap tabung) lengkap dengan tabung durham. Atur kesembilan tabung menjadi 3 seri (seperti di gambar).
  2. Kocok botol yang berisi air sampel.
  3. Pindahkan suspensi air sample sebanyak 10 ml ke masing-masing tabung seri pertama (3 tabung LBDS), secara aseptis.
  4. Pindahkan suspensi air sampel sebanyak 1 ml ke masing-masing tabung seri kedua (3 tabung LBSS), secara aseptis.
  5. Pindahkan suspensi air sampel sebanyak 1 ml ke masing-masing tabung seri ketiga (3 tabung LBSS), secara aseptis.
  6. Inkubasi semua tabung pada suhu 37º C selama 48 jam.
  7. Lihat tabung gas positif (asam dan gas ; harus ada keduanya), lalu hitung tabung positif untuk tiap seri. Tulis kombinasi tabung positif tiap seri (misal : 3 2 1). Kombinasi angka tersebut lalu dicocokkan dengan tabel MPN untuk seri 3 sehingga diperoleh jumlah mikroba sebenarnya.
 

Pada pemeriksaan suatu produk, jumlah bakteri akan menggambarkan mutu bahan baku, proses pembuatan dan tingkat kerusakan suatu bahan makanan. Metode perhitungan sangat banyak, hanya biasanya metode yang dipilih adalah disesuaikan dengan kepentingan pemeriksaan, kecepatan dan ketepatan hasil pemeriksaan.

Metode perhitungan itu adalah:

(1)   Metode hitung bakteri, metode ini dapat dikerjakan tergantung dari jumlah bakteri yang hidup dengan aktifitas metabolisme :

(a)    angka lempengan total

(b)   pengenceran, Most Probable Number (MPN)

(c)    aktifitas metabolik

(2)   Metode total bakteri hidup dan bakteri mati meliputi :

(a)    berat kering bakteri

(b)   kekeruhan, berdasarkan jumlah sinar yang diserap pada panjang gelombang tertentu

(c)    hitung partikel elektronik

(d)   hitung dengan mikroskop langsung

(e)    volume sel (Anonim, 2007)

Dari sejumlah metode di atas beberapa saja yang sering digunakan untuk pemeriksaan rutin yaitu;
1. Angka lempeng total ”Pour Plate” digunakan untuk menghitung bakteri dengan ketentuan yaitu :
Satu koloni bakteri dihitung satu sel bakteri hidup, satu sel hidup dari sampel akan mampu membentuk koloni bakteri dalam lempeng petri dish, dan dihitung jumlah koloni antar 30-300 koloni. Apabila kurang maka dihitung jumlah koloni yang ada, sedang apabila lebih dari 300 maka perlu dilakukan pengenceran.
 2. Penghitungan bakteri dengan bakteri ”Spread Plate”, prinsip hitung bakteri dengan metode ini adalah meratakan bakteri yang terdapat di dalam sampel dengan volume tertentu di atas permukaan media yang sesuai.
3. Most Probable Number (MPN), adalah perhitungan bakteri dengan cara menggunakan variasi jumlah tabung yang sudah ada di dalam standard (Anonim, 2007).

Slide spesial-counting Chambers sebagaimana penghitung bakteri Petroff-Hausser juga digunakan untuk membuat perhitungan langsung. Perhitungan bakteri ditempatkan pada sebuah jalur ruangan, dimensi dari yang kita tahu, dan dibungkus dengan yang kecil. Pengujian dapat di buat dengan lebih banyak kepuasan dengan lapangan-gelap atau fase mikroskopis, jika sel tidak ditandai dan karena itu tidak terlalu mencolok oleh pengujian terang-lapang. Sejak counting cahmber diputuskan mati di dalam area yang pasti dan sejak kedalaman dari perhitungan pada ruangan diperhitungkan di ketahui, berarti bahwa di atas volume lain daerah yang diatus dapat dijumlahkan. Semuanya adalah dibutuhkan, oleh karena itu, apakah dijumlahkan nomor dari organisme di beberapa area, rata-rata mendapatkan bilangan untuk menghitung per area, dan juga mengalikan rata-rata ini oleh sebuah faktor yang tepat memasukkan penjumlahan ke nomor bakteri per milimeter (Pelczar, etc. 1958).



MENGHITUNG / PERHITUNGAN JUMLAH BAKTERI TPC LANGSUNG


Perhitungan Bakteri
          Perhitungan jumlah suatu bakteri dapat melalui berbagai macam uji seperti uji kualitatif koliform yang secara lengkap terdiri dari tiga tahap yaitu uji penduga (uji kuantitatif, bisa dengan metode MPN), uji penguat dan uji pelengkap. Waktu, mutu sampel, biaya, tujuan analisis merupakan beberapa faktor penentu dalam uji kualitatif koliform. Bakteri koliform dapat dihitung dengan menggunakan metode cawan petri (metode perhitungan secara tidak langsung yang didasarkan pada anggapan bahwa setiap sel yang dapat hidup akan berkembang menjadi satu koloni yang merupakan suatu indeks bagi jumlah organisme yang dapat hidup yang terdapat pada sampel) seperti yang dilakukan pada percobaan ini (Penn, 1991).
Metoda APM adalah metoda untuk menghitung jumlah mikroba dengan menggunakan medium cair dalam tabung reaksi yang pada umumnya setiap pengenceran menggunakan 3 atau5 seri tabung dan perhitungan yang dilakukan merupakan tahap pendekatan secara statisitik.
Tabung positif ditunjukkan oleh adanya pertumbuhan bakteri dan gas.
Nilai APM ini diperoleh dengan anggapan sebagai berikut :
a. Bakteri dalam contoh menyebar secara random;
b. Bakteri dalam contoh tidak berkelompok atau cluster, tetapi saling terpisah;
c. Organisma yang terdapat dalam contoh dapat tumbuh dalam medium selama inkubasi;
d. Kondisi yang sesuai untuk pertumbuhan, seperti media dan waktu inkubasi.
             Di dalam penggunaan seri tabung pengenceran tingkat pengenceran yang diperlukan didasarkan pada pendugaan populasi bakteri yang ada dalam contoh. Hasil yang baik adalah jika pada pengenceran yang lebih rendah contoh yang diduga lebih banyak menunjukkan hasil uji positif (adanya pertumbuhan bakteri) dan pada pengenceran lebih tinggi contoh yang diduga lebih sedikit menunjukkan hasil uji negatif (tidak ada pertumbuhan bakteri). Oleh karena itu jumlah populasi bakteri yang ada dalam contoh diduga tinggi maka contoh harus diencerkan sampai diperoleh tingkat pengenceran yang lebih tinggi sehingga nilai APM maksimum yang dapat dihitung. Metoda pengenceran yang paling mudah adalah dengan melakukan pengenceran 10 kali lipat dengan menggunakan 3 atau 5 seri tabung pengenceran.
(http://journal.discoveryindonesia.com/PDFInterstitial,perhitungan+jumlah+mikroba.id)
Pengukuran kuantitatif populasi mikroorganisme sangat diperlukan untuk berbagai macam penelaahan mikrobiologis. Berbagai macam cara dapat dilakukan untuk menghitung jumlah mikroorganisme, akan tetapi secara mendasar, ada dua cara yaitu secara langsung dan secara tidak langsung. Ada beberapa cara perhitungan secara langsung, antara lain adalah dengan membuat preparat dari austu bahan (preparat sederhana diwarnai atau tidak diwarnai) dan penggunaan ruang hitung (counting chamber). Sedangkan perhitungan cara tidak langsung hanya untuk mengetahui jumlah mikroorganisme pada suatu bahan yang masih hidup saja (viabel count). Dalam pelaksanaannya, ada beberapa cara yaitu : perhitungan pada cawan petri (total plate count / TPC), perhitungan melalui pengenceran, perhitungan jumlah terkecil atau terdekat (MPN methode), dan kalorimeter (cara kekeruhan atau turbidimetri) (Sutedjo, 1991).


Perhitungan Bakteri secara langsung
            Ada beberapa cara perhitungan secara langsung, antara lain adalah dengan membuat preparat dari austu bahan (preparat sederhana diwarnai atau tidak diwarnai) dan penggunaan ruang hitung (counting chamber) (Sutedjo, 1991).
Enumerasi mikroba dapat dilakukan secara langsung yaitu dengan menghitung jumlahnya tanpa ditumbuhkan terlebih dahulu dalam suatu medium, dalam teknik ini semua sel mikroba baik yang idup maupun yang mati akan terhitung. Untuk melakukan enumerasi mikroba dalam suatu bahan seringkali diperlukan pengenceran bertingkat(Rukmi, MG.I., A.T. Lunggani, A. Suprihadi, 2008).

Perhitungan Bakteri Secara Tidak Langsung
Sedangkan perhitungan cara tidak langsung hanya untuk mengetahui jumlah mikroorganisme pada suatu bahan yang masih hidup saja (viabel count). Dalam pelaksanaannya, ada beberapa cara yaitu : perhitungan pada cawan petri (total plate count / TPC), perhitungan melalui pengenceran, perhitungan jumlah terkecil atau terdekat (MPN methode), dan kalorimeter (cara kekeruhan atau turbidimetri) (Sutedjo, 1991).
1. Berdasarkan kekeruhan
           Mikroba dalam suatu bahan cair dapat dideteksi berdasarkan kekeruhannya. Pertumbuhan sel bakteri didalam suatu medium cair akan meningkatkan kekeruhan media, yang akan mempengaruhi jumlah sinar yang dapat ditransmisikan menembus medium(Rukmi, MG.I., A.T. Lunggani, A. Suprihadi, 2008).
2. Berdasarkan jumlah lempeng total (plate count)
         Cara ini adalah cara yang paling umum digunakan untuk menentukan jumlah mikroba yang masih hidup, berdasarkan jumlah koloni yang tumbuh. Teknik ini diawali dengan pengenceran sampel secara seri, dengan kelipatan 1 : 10. Masing-masing suspensi pengenceran ditanam dengan metode tuang (pour plate) atau sebar (spread plate). Bakteri akan bereproduksi pada medium agar dan membentuk koloni setelah 18-24 jam inkubasi. Untuk menghitung jumlah koloni dalam cawan petri dapat digunakan alat ’colony counter’ yang biasanya dilengkapi dengan pencatat elektronik. (Rukmi, MG.I., A.T. Lunggani, A. Suprihadi, 2008).







 

 


Read more ...